Buntok, Habarkalimantantengah.com - Di saat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus menjadi ancaman bagi lingkungan dan kualitas udara, dedikasi para petugas yang berjibaku di lapangan menjadi bagian penting dari perjuangan melindungi masyarakat. Di Kecamatan Karau Kuala, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, kerja keras Tim Siaga Karhutla mendapat apresiasi dari warga yang merasakan pentingnya upaya bersama untuk mencegah api meluas dan kabut asap semakin mengancam kehidupan.
Apresiasi dan ucapan terima kasih itu disampaikan warga Kelurahan Bangkuang kepada seluruh personel yang selama ini terlibat dalam penanganan karhutla. Mereka terdiri atas unsur TNI, Polri, aparatur sipil negara (ASN), dan Masyarakat Peduli Api (MPA), yang bersama-sama berupaya mengendalikan kebakaran di wilayah setempat.
Perjuangan memadamkan api bukan sekadar tugas lapangan. Di balik setiap upaya pemadaman, ada tanggung jawab besar untuk melindungi lingkungan, menjaga keselamatan warga, dan mengurangi risiko dampak kebakaran terhadap kesehatan serta aktivitas sehari-hari.
Jhon Kenedy, warga Kelurahan Bangkuang, menyampaikan penghargaan kepada seluruh personel yang terus menunjukkan dedikasi dalam penanganan karhutla. Ia menilai semangat, pengorbanan, dan kesiapsiagaan para petugas layak mendapat dukungan nyata dari seluruh lapisan masyarakat.
“Terima kasih kepada seluruh Tim Siaga Karhutla Kecamatan Karau Kuala, mulai dari unsur TNI, Polri, ASN hingga MPA, yang terus berjuang di lapangan. Apa yang mereka lakukan sangat berarti bagi masyarakat. Mereka tidak hanya berupaya memadamkan api, tetapi juga membantu melindungi lingkungan dan memperjuangkan udara yang lebih bersih bagi kita semua,” ungkap Jhon, Minggu (18/10/2026).
Menurutnya, perjuangan melawan karhutla membutuhkan ketangguhan, kepedulian, dan semangat pengabdian. Ketika api muncul dan berpotensi meluas, kecepatan penanganan menjadi sangat penting. Karena itu, kerja keras petugas patut diapresiasi sekaligus didukung dengan kesadaran masyarakat untuk tidak melakukan tindakan yang dapat memicu kebakaran.
Jhon juga memberikan apresiasi khusus kepada Camat Karau Kuala, Adriansyah, yang dinilainya menunjukkan kepedulian dengan turun langsung dan ikut dalam upaya pemadaman karhutla.
Kehadiran pimpinan di lapangan, menurutnya, merupakan bentuk dukungan terhadap personel yang bertugas sekaligus menunjukkan bahwa penanganan bencana membutuhkan keterlibatan langsung, koordinasi, dan tanggung jawab bersama.
Namun, Jhon mengingatkan bahwa perjuangan tersebut tidak akan maksimal apabila hanya dibebankan kepada petugas. Masyarakat memiliki peran strategis dalam memutus rantai terjadinya kebakaran, terutama melalui pencegahan, kewaspadaan, dan pelaporan dini ketika menemukan titik api.
Pandangan serupa disampaikan Joni Setiawan, warga Bangkuang lainnya. Ia menegaskan bahwa penanggulangan karhutla bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah maupun Tim Siaga Karhutla. Partisipasi masyarakat justru menjadi salah satu unsur penting agar upaya pencegahan dan pemadaman dapat berjalan lebih efektif.
“Semua pihak harus mengambil bagian. Jangan hanya mengandalkan pemerintah dan petugas di lapangan. Masyarakat juga harus peduli, tidak membuka lahan dengan cara membakar, serta segera melaporkan apabila menemukan titik api. Pencegahan akan jauh lebih baik daripada membiarkan api membesar dan menimbulkan dampak yang lebih luas,” ujarnya.
Seruan tersebut relevan dengan besarnya tantangan karhutla di wilayah Kecamatan Karau Kuala. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Barito Selatan, hingga 16 Oktober 2026, tercatat 42 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 133,36 hektare.
Angka itu memperlihatkan bahwa karhutla bukan persoalan yang dapat dipandang sebelah mata. Di balik luasnya lahan yang terbakar, terdapat ancaman terhadap kelestarian lingkungan, potensi gangguan kesehatan akibat asap, serta risiko terganggunya aktivitas masyarakat.
Situasi tersebut menegaskan pentingnya memperkuat langkah pencegahan tanpa mengurangi kesiapsiagaan pemadaman. Pemerintah, aparat, relawan, dan masyarakat perlu terus membangun koordinasi agar setiap indikasi kebakaran dapat ditangani sedini mungkin.(red/j)
