Palangka Raya, Habarkalimantantengah.com - Masa depan anak tidak hanya dibentuk oleh pendidikan formal, tetapi juga oleh pengalaman, keterampilan, dan nilai-nilai kehidupan yang ditanamkan sejak dini. Di tengah dunia yang terus berkembang, kemampuan berkomunikasi, keberanian mengekspresikan diri, serta kepercayaan diri menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk menghadapi berbagai tantangan.
Kesadaran akan pentingnya hal tersebut mendorong Dwi Sugiarto mengambil langkah nyata. Ia mengajak anak-anak dan anggota keluarganya mengikuti kegiatan Belajar Public Speaking & Catwalk bersama Puteri Indonesia di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Sabtu (17/10/2026).
Dalam kegiatan itu, Dwi membawa kedua anaknya, Carissa Hilya Sugiarto dan Gilang Yusuf Sugiarto, dua keponakannya, Muhammad Arfan Nur Rafiqi dan Bilqis Humaira Ramadhani, serta adik bungsunya, Amelia Nasya Ramadhani.
Bagi Dwi, memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar dan mengembangkan potensi diri merupakan investasi jangka panjang yang nilainya jauh melampaui materi. Sebab, bekal ilmu, keterampilan, karakter, dan pengalaman akan menjadi bagian penting dalam perjalanan mereka menuju kedewasaan.“Alhamdulillah, kemarin, Sabtu (17/10/2026), anak-anak saya, keponakan, dan adik bungsu saya mengikuti kegiatan belajar public speaking dan catwalk bersama Puteri Indonesia di Banjarbaru, Kalimantan Selatan,” ujar Dwi Sugiarto, Minggu (18/10/2026).
Pria yang akrab disapa Sugie tersebut memandang pembelajaran sejak usia dini sebagai bagian dari upaya mempersiapkan anak agar tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga keberanian untuk menunjukkan kemampuan dan menyampaikan gagasan secara baik.
Melalui public speaking, anak-anak dapat belajar menyusun pikiran, mengutarakan pendapat, serta membangun keberanian berbicara di hadapan orang lain. Sementara itu, pembelajaran catwalk memberikan ruang untuk mengenal postur, kedisiplinan, konsentrasi, dan cara membawa diri dengan percaya diri.
Keduanya bukan semata-mata keterampilan untuk tampil di atas panggung. Lebih dari itu, proses belajar tersebut dapat menjadi sarana bagi anak untuk mengenali potensi, mengatasi rasa canggung, dan membiasakan diri menghadapi pengalaman baru.
Bagi Sugie, investasi terbaik bagi anak bukan hanya tentang apa yang dapat diberikan hari ini, melainkan juga tentang bekal yang dapat mereka bawa sepanjang kehidupan.
Pandangan ini menempatkan pendidikan sebagai proses yang lebih luas daripada sekadar pencapaian akademik. Anak juga membutuhkan kesempatan untuk mencoba, berlatih, melakukan evaluasi, dan tumbuh melalui pengalaman dengan dukungan keluarga.
Peran orang tua dan keluarga pun menjadi penting dalam proses tersebut. Dukungan yang diberikan bukan untuk memaksakan anak memenuhi harapan orang dewasa, melainkan membantu mereka menemukan minat, mengembangkan kemampuan, serta tumbuh sesuai dengan potensi masing-masing.
Mengajak anak mengikuti kegiatan pengembangan diri menjadi salah satu cara untuk membuka ruang pembelajaran itu. Setiap pengalaman dapat menjadi bekal berharga, selama dijalani dengan pendampingan yang tepat dan disesuaikan dengan kebutuhan serta tahap perkembangan anak.
Ilmu dapat menjadi bekal, karakter menjadi fondasi, dan kepercayaan diri menjadi pintu untuk melangkah. Ketiganya merupakan modal berharga agar anak-anak memiliki kesiapan untuk mengenali peluang, menghadapi tantangan, dan menentukan arah masa depan mereka sendiri.(red/j)
