Buntok, Habarkalimantantengah.com - Dari sebuah kelurahan di Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, suara seorang anak sekolah dasar menyampaikan pesan yang menggugah perhatian publik. Di tengah kepungan kabut asap, Arvino Nazril Rhasaad tidak berbicara tentang hal-hal yang jauh dari kehidupannya. Ia berbicara tentang udara yang dihirupnya, anak-anak yang disebutnya mengalami gangguan pernapasan, dan sekolah yang menurut pengakuannya tak lagi dapat dijalani seperti biasa.
Arvino, yang akrab disapa Vino, merupakan siswa kelas IV Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darul Ulum, Kelurahan Bangkuang, Kecamatan Karau Kuala. Dari lingkungan tempat ia tumbuh, bocah ini menyampaikan pesan terbuka kepada Presiden Republik Indonesia. Pesannya sederhana, tetapi membawa keresahan yang layak didengar, yakni bagaimana nasib anak-anak di daerah ketika kabut asap menyelimuti ruang hidup mereka?
“Lihatlah Bapak Presiden yang terhormat. Lihatlah kondisi di tempat kami, tempat aku lahir sedang berkabut asap. Banyak anak-anak yang sakit, yang sesak napas,” ujar Vino dalam video yang beredar di media sosial.
Dengan tutur polos, Vino kemudian menyampaikan kalimat yang menjadi inti pesannya sekaligus menarik perhatian warganet.
“Lihat Bapak Presiden, karena ini Kalimantan, bukan Jakarta. Ini desa, bukan kota.”
Kalimat itu bukan sekadar perbandingan antara dua wilayah. Dalam konteks keresahan yang ia sampaikan, terselip harapan agar kondisi masyarakat di daerah turut mendapat perhatian dan penanganan yang memadai. Bagi Vino, kabut asap bukan persoalan yang cukup dijawab dengan pernyataan bahwa keadaan baik-baik saja. Ia ingin kondisi yang dirasakannya di Bangkuang juga didengar oleh pemimpin tertinggi negara.
Vino kemudian mempertanyakan pernyataan mengenai kondisi Kalimantan yang disebut baik-baik saja, sementara pengalaman yang ia ceritakan justru berbeda.
“Lihatlah Bapak Presiden, bagaimana Bapak bilang kalau Kalimantan baik-baik saja, aman-aman saja. Sementara kami sudah tidak bisa bersekolah lagi. Bagaimana tanggapan Bapak?” tuturnya sebelum menutup pesan dengan salam.
Video tersebut diunggah melalui akun Facebook ibunya, Leli Herawati, pada Jumat (9/10/2026). Sehari kemudian, Sabtu (10/10/2026), media ini melansir video tersebut. Unggahan itu pun memantik perhatian dan dukungan warganet.
Pesan Vino membawa persoalan karhutla ke ruang yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat, yaitu kesehatan anak dan keberlangsungan pendidikan. Di tengah upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan, pengalaman warga yang berada di wilayah terdampak menjadi bagian penting untuk memahami situasi di lapangan.
Kabut asap tidak hanya berkaitan dengan jarak pandang dan kualitas udara. Paparan asap juga berisiko mengganggu kesehatan, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan. Ketika kondisi udara memburuk, aktivitas sehari-hari, termasuk kegiatan belajar, dapat ikut terdampak sesuai tingkat paparan dan situasi di masing-masing wilayah.
Karena itu, pesan Vino patut ditempatkan sebagai suara warga yang perlu ditindaklanjuti dengan perhatian dan pemeriksaan kondisi di lapangan. Keterangan mengenai gangguan pernapasan maupun terhentinya kegiatan sekolah perlu diperkuat melalui konfirmasi kepada pihak sekolah, tenaga kesehatan, dan instansi terkait agar penanganan didasarkan pada kondisi yang terukur.
Vino diketahui tinggal di RT 016/RW 006, Kelurahan Bangkuang, Kecamatan Karau Kuala, Kabupaten Barito Selatan. Dari wilayah inilah ia menyampaikan harapan agar kondisi yang dialaminya tidak luput dari perhatian pemerintah.
Di balik video singkat itu, ada pesan yang lebih luas daripada sekadar keluhan tentang kabut asap. Ada harapan agar setiap anak, termasuk mereka yang tinggal jauh dari pusat pemerintahan, memperoleh perhatian yang setara ketika menghadapi persoalan yang mengancam kesehatan dan mengganggu pendidikan.
Suara Vino juga mengingatkan bahwa keberhasilan penanganan karhutla tidak cukup diukur dari upaya pemadaman atau penurunan jumlah titik api. Perlindungan terhadap masyarakat, pemantauan kualitas udara, pelayanan kesehatan, serta keberlangsungan kegiatan belajar anak-anak merupakan bagian penting dari respons yang perlu diperhatikan.
Bagi Vino, persoalan itu bukan wacana. Ia menyampaikannya dari lingkungan tempat ia tinggal, dengan bahasa seorang anak yang ingin didengar.
Tidak ada kemewahan dalam harapan yang ia ungkapkan. Ia hanya ingin kondisi di tempat kelahirannya mendapat perhatian, anak-anak tidak lagi dihantui gangguan akibat kabut asap, dan kegiatan sekolah dapat kembali berlangsung dengan aman.
Dari Bangkuang, suara kecil itu kini menjadi pengingat bagi semua pihak, ketika kabut asap menyelimuti suatu wilayah, yang dipertaruhkan bukan hanya kualitas udara, melainkan juga kesehatan, rasa aman, dan masa depan anak-anak.
Sebab, di mana pun mereka dilahirkan, di ibu kota ataupun di pelosok Kalimantan, setiap anak berhak menghirup udara yang layak dan memperoleh kesempatan belajar yang aman.(red/j)
