Ketika Idealisme Diuji Pragmatisme, KAHMI Kalteng Refleksikan Masa Depan KNPI

Palangka Raya, Habarkalimantantengah.com - Organisasi kepemudaan tidak cukup hanya bertahan. Ia harus mampu membuktikan bahwa keberadaannya masih bermakna, perjuangannya tetap relevan, dan manfaatnya benar-benar dirasakan generasi yang diwakilinya.

Gagasan itulah yang mengemuka dalam diskusi reflektif Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Kalimantan Tengah (Kalteng), Minggu (25/10/2026). Selama hampir lima jam, sejumlah senior dan tokoh pemuda bertukar pandangan mengenai eksistensi, fungsi, serta masa depan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI).

Pertanyaan yang mengawali diskusi tersebut sederhana, tetapi menyentuh persoalan mendasar, yakni masihkah KNPI relevan bagi gerakan kepemudaan hari ini?

Percakapan berkembang menjadi refleksi kritis tentang idealisme, kaderisasi, representasi, hingga hubungan antara organisasi kepemudaan dan kekuasaan. Di balik beragam pandangan yang muncul, tersimpan kegelisahan mengenai arah perjuangan pemuda dan kemampuan KNPI mempertahankan perannya di tengah perubahan sosial dan politik.

Diskusi itu tidak sekadar menengok perjalanan masa lalu. Lebih dari itu, forum tersebut mempertanyakan apa yang masih dapat diperjuangkan KNPI untuk masa depan.

Dr. Suyuti membuka ruang refleksi dengan mempertanyakan urgensi KNPI dalam konteks kekinian. Ia menyinggung latar historis pembentukan organisasi tersebut pada masa Orde Baru dan mengingatkan agar generasi muda tidak terjebak dalam romantisme kejayaan masa lalu.

Dalam perspektif ini, sejarah semestinya menjadi bahan pembelajaran, bukan alasan untuk mempertahankan pola gerakan yang mungkin tidak lagi menjawab kebutuhan zaman. Semangat kritis dan keberanian pemuda untuk menyampaikan sikap, menurut pandangan yang mengemuka, tetap harus menjadi roh organisasi.

Persoalan idealisme kemudian mendapat sorotan dari Sabri. Ia menyampaikan harapan agar kepedulian generasi muda terhadap gerakan kepemudaan tidak memudar. Namun, ia juga mengkritisi kecenderungan pragmatisme dalam kontestasi kepemimpinan KNPI.

Menurutnya, kemampuan finansial kandidat berpotensi menjadi faktor dominan dalam perebutan kepemimpinan, antara lain karena besarnya kebutuhan biaya organisasi. Situasi semacam itu dikhawatirkan mempersempit ruang bagi figur yang mengandalkan gagasan, integritas, dan komitmen perjuangan.

Kritik tersebut membawa diskusi pada persoalan yang lebih luas, yaitu bagaimana memastikan kompetisi dalam organisasi kepemudaan tetap menjadi ruang adu kapasitas dan gagasan, bukan semata-mata pertarungan sumber daya?

Sebab, kepemimpinan organisasi tidak semestinya diukur hanya dari kemampuan memenangkan kontestasi. Ukuran yang lebih mendasar terletak pada keberanian menetapkan arah, menjaga integritas, dan memperjuangkan kepentingan mereka yang diwakili.

Di tengah berbagai kritik, kebutuhan akan wadah pemersatu tetap menjadi salah satu gagasan penting dalam diskusi tersebut.

Ompu memandang dinamika KNPI perlu dijadikan momentum introspeksi bersama. Ia mendorong evaluasi dan penataan ulang format perjuangan kepemudaan, termasuk dengan mencermati gagasan yang berkembang dalam Kelompok Cipayung.

Baginya, keberadaan wadah bersama tetap penting sebagai ruang perjumpaan berbagai latar belakang, organisasi, dan pemikiran. Semangat mempersatukan pemuda harus dipertahankan, sekalipun perbedaan kepentingan dan orientasi gerakan tidak selalu mudah dipertemukan.

Di sinilah KNPI menghadapi tantangan mendasarnya. Sebagai wadah yang menghimpun beragam organisasi kepemudaan, relevansinya tidak cukup ditentukan oleh luasnya struktur atau banyaknya unsur yang terlibat. Kemampuan membangun kerja bersama dan menghadirkan agenda yang bermanfaat menjadi ukuran yang tidak kalah penting.

Suyanto mempertanyakan sejauh mana KNPI mampu menjalankan fungsi representasi dan memberikan kontribusi nyata bagi pemuda. Ia membandingkannya dengan organisasi yang memiliki basis keanggotaan dan jaringan gerakan lebih spesifik, seperti Pemuda Muhammadiyah, Gerakan Pemuda Ansor, serta organisasi kepemudaan yang berafiliasi dengan partai politik.

Perbandingan tersebut menyoroti pentingnya kehadiran organisasi hingga ke akar rumput. Tantangan KNPI bukan sekadar mempertemukan organisasi dalam satu struktur, melainkan menjembatani beragam kepentingan menjadi gerakan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh generasi muda.

Sementara itu, Dariyana, SE, mengingatkan kembali posisi KNPI pada masa lalu sebagai kawah candradimuka bagi generasi muda untuk menempa diri menjadi calon pemimpin bangsa.

Ingatan tersebut menyimpan pesan penting tentang kaderisasi. Regenerasi tidak berhenti pada pergantian kepengurusan atau pengisian jabatan struktural. Ia harus menjadi proses pembentukan karakter, penguatan kapasitas, dan penanaman tanggung jawab terhadap kepentingan publik.

Jika fungsi tersebut melemah, organisasi berisiko kehilangan salah satu alasan terpenting yang membuatnya dibutuhkan.

Salah satu bagian paling kritis dalam diskusi muncul ketika orientasi organisasi dikaitkan dengan kepentingan pribadi dan peluang kekuasaan.

Aris menyampaikan kritik satir agar kontribusi KNPI tidak hanya dirasakan pengurus dalam memperbaiki nasib mereka sendiri, tetapi juga benar-benar memberi manfaat bagi pemuda Indonesia.

Ia menggambarkan KNPI pada masa lalu sebagai jembatan menuju kekuasaan bagi ketuanya, dengan kekhawatiran bahwa manfaat dari jembatan tersebut hanya dinikmati segelintir orang.

Pernyataan itu merupakan kritik peserta terhadap orientasi organisasi, bukan kesimpulan yang telah diverifikasi mengenai seluruh kepemimpinan KNPI. Namun, substansi yang diangkat menyentuh persoalan penting dalam kehidupan organisasi adalah bagaimana memastikan bahwa kesempatan berkarier melalui organisasi tetap berjalan seiring dengan tanggung jawab pengabdian.

Agus Hermawan menempatkan persoalan tersebut dalam kerangka etika dan nilai. Menurutnya, KNPI kehilangan makna apabila tidak dijalankan dengan semangat fastabiqul khairat, yakni berlomba-lomba dalam kebaikan.

Ia juga menyoroti peran generasi senior dalam membentuk perilaku organisasi pada masa kini, termasuk praktik pragmatis yang menjadi sasaran kritik. Pandangan itu mengajak peserta melihat persoalan gerakan kepemudaan bukan hanya sebagai tanggung jawab generasi yang sedang memimpin, tetapi juga sebagai bagian dari budaya organisasi yang terbentuk dan diwariskan dari waktu ke waktu.

Dari sisi historis, Sarwepin menyinggung dinamika kepemimpinan KNPI di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota yang pada masa lalu kerap dikaitkan dengan peluang meniti karier politik, termasuk menuju lembaga legislatif. Ia mencontohkan Ir. Sapta Nusa Wenten, mantan Ketua KNPI Kalteng, dalam pembahasan mengenai hubungan antara kepemimpinan organisasi dan perjalanan politik.

Persoalannya bukan pada kemungkinan kader organisasi memasuki dunia politik. Pengalaman berorganisasi justru dapat menjadi bekal untuk berkiprah di ruang publik. Yang menjadi perhatian adalah bagaimana memastikan bahwa mobilitas politik tersebut tidak menggeser tujuan utama organisasi dalam membangun kapasitas dan memperjuangkan kepentingan pemuda.

Dari berbagai pandangan yang disampaikan, diskusi reflektif tersebut mengerucut pada empat agenda evaluasi.

Pertama, menguji relevansi kelembagaan. KNPI perlu menilai kembali efektivitas fungsi dan kontribusinya. Keberadaan sekretariat, struktur, serta agenda organisasi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa kebutuhan pemuda telah terjawab.

Kedua, menjaga idealisme dan integritas kepemimpinan. Kekhawatiran terhadap pragmatisme dalam Musyawarah Daerah (Musda), termasuk dugaan praktik politik uang yang disoroti peserta, menegaskan pentingnya proses kompetisi yang mengutamakan gagasan, kapasitas, dan integritas. Dugaan tersebut tetap memerlukan pembuktian tersendiri dan tidak dapat diperlakukan sebagai fakta yang telah terkonfirmasi.

Ketiga, menghidupkan kaderisasi dan persatuan. KNPI diharapkan tidak kehilangan fungsi sebagai ruang pembelajaran kepemimpinan dan pertemuan berbagai elemen pemuda. Persatuan perlu diwujudkan melalui kerja bersama, bukan sekadar kesepakatan dalam forum formal.

Keempat, menegaskan orientasi pengabdian. Organisasi kepemudaan harus mampu membedakan pencapaian pribadi pengurus dari keberhasilan perjuangan kolektif. Jabatan dapat menjadi bagian dari perjalanan kepemimpinan, tetapi manfaat bagi pemuda harus tetap menjadi tolok ukur utama.

Keempat agenda tersebut memperlihatkan bahwa tantangan KNPI tidak berhenti pada persoalan struktur atau pergantian kepemimpinan. Tantangan yang lebih mendasar adalah membangun kembali kepercayaan melalui kerja yang terukur, kaderisasi yang bermakna, dan keberpihakan yang nyata terhadap kebutuhan generasi muda.

Diskusi reflektif KAHMI Kalteng tersebut mempertemukan kritik, ingatan historis, dan harapan terhadap masa depan gerakan kepemudaan. Berbagai pandangan yang muncul mencerminkan kegelisahan para peserta, tetapi tidak serta-merta menjadi sikap atau keputusan resmi KAHMI Kalteng.

Pesan substantifnya terletak pada tuntutan agar KNPI berani mengevaluasi diri. Organisasi ini perlu dinilai berdasarkan kualitas kaderisasi, integritas kepemimpinan, kemampuan mempersatukan perbedaan, serta kontribusi nyata bagi generasi muda.

Relevansi tidak lahir semata-mata dari nama besar, sejarah panjang, atau keberlangsungan kepengurusan. Relevansi dibangun ketika organisasi mampu menjawab kebutuhan zamannya dan memberi alasan yang kuat bagi generasi muda untuk tetap terlibat di dalamnya.

Pada akhirnya, pertanyaan mengenai masa depan KNPI tidak cukup dijawab melalui pembelaan terhadap sejarah maupun kritik terhadap keadaan sekarang. Jawabannya harus ditemukan melalui pembenahan yang nyata: memperkuat idealisme, memperbaiki tata kelola, menghidupkan kaderisasi, dan mengembalikan kepentingan pemuda sebagai orientasi utama gerakan.

Sebab, ukuran keberhasilan organisasi kepemudaan bukan semata-mata siapa yang memimpinnya, melainkan generasi seperti apa yang berhasil dibentuk dan perubahan apa yang mampu dihadirkannya.(red/j)

Catatan redaksi: Berita ini disusun berdasarkan rilis refleksi dan rangkuman percakapan grup WhatsApp KAHMI Kalteng. Pandangan, kritik, dan keterangan historis yang disampaikan merupakan pendapat masing-masing peserta dan belum diverifikasi secara independen. Diskusi tersebut tidak serta-merta mencerminkan keputusan atau sikap resmi KAHMI Kalteng.

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال