Palangka Raya, Habarkalimantantengah.com - Gagasan mengenai arah regenerasi kepemimpinan pemuda kembali mengemuka di Kalimantan Tengah. Di tengah dinamika transisi kepemimpinan DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kalimantan Tengah, Damai Alam Usop mendorong agar proses regenerasi tidak berhenti pada pergantian figur, tetapi menjadi momentum memperkuat KNPI sebagai Rumah Bersama bagi seluruh pemuda.
Melalui gagasan yang disebutnya sebagai “Kebangkitan Identitas Pemuda”, Damai menilai ruang kepemimpinan pemuda perlu terbuka bagi kader-kader yang memiliki akar budaya, pengalaman organisasi, kapasitas kepemimpinan, sekaligus mampu berdiri di tengah kemajemukan masyarakat Kalimantan Tengah.
Dalam pandangan tersebut, kader muda Dayak dari lingkungan Cipayung Plus dinilai memiliki ruang untuk tampil apabila Musyawarah Daerah Luar Biasa (Musdalub) benar-benar digelar dan mekanisme organisasi membuka kesempatan bagi seluruh kader yang memenuhi persyaratan.
Namun, Damai menegaskan bahwa gagasan itu tidak dapat dimaknai sebagai klaim bahwa organisasi-organisasi Cipayung Plus telah menetapkan ataupun mendukung figur tertentu.
Hingga 30 September 2026, sikap publik Cipayung Plus Kalimantan Tengah yang disebut terverifikasi lebih berfokus pada penolakan penggunaan Pelaksana Harian (Plh), kebutuhan akan mekanisme transisi yang memiliki legitimasi, serta dorongan agar Musdalub diselenggarakan.
Bagi Damai, persoalan utamanya bukan sekadar siapa yang akan memimpin KNPI, melainkan bagaimana organisasi kepemudaan tersebut kembali menjadi rumah yang terbuka bagi seluruh elemen pemuda.
Identitas budaya, menurut dia, dapat menjadi akar, tetapi tidak seharusnya menjadi batas. Sebaliknya, kemajemukan tidak harus menghapus identitas. Keduanya dapat berjalan beriringan dalam sebuah organisasi yang memiliki fungsi kaderisasi dan penguatan kepemimpinan pemuda.
Karena itu, kader muda Dayak yang nantinya tampil dalam kontestasi tetap harus diuji melalui kapasitas, rekam jejak, pengalaman organisasi, kemampuan membangun komunikasi lintas kelompok, serta komitmen terhadap mekanisme demokratis.
Identitas tidak ditempatkan sebagai satu-satunya dasar untuk memperoleh mandat, melainkan sebagai bagian dari pengalaman sosial dan kebudayaan yang dapat memperkaya kepemimpinan dalam organisasi yang plural.
Gagasan tersebut beririsan dengan pemikiran Damai dalam buku Akar ke Republik, yaitu Adat dan Negara, yang diterbitkan CV Adanu Abimata pada September 2026. Buku tersebut antara lain membahas Batang Garing, Huma Betang, handep, hapakat, bahadat, Tumbang Anoi, Damang, dan Kedamangan dalam kaitannya dengan keteraturan hidup, musyawarah, perdamaian, legitimasi, kelembagaan, hukum, negara, serta Pancasila.
Dalam kerangka pemikiran itu, identitas Dayak ditempatkan sebagai akar, sedangkan kemajemukan menjadi ruang bersama.
Dinamika regenerasi tersebut juga beririsan dengan sikap kelompok kepemudaan mengenai mekanisme transisi kepemimpinan KNPI Kalimantan Tengah.
Melalui surat FKPKT Nomor 01/PP/FKPKT/IX/2026 tertanggal 30 September 2026, Damai Alam Usop selaku Ketua Umum bersama Arya Wahyu Syawaldy sebagai Sekretaris Jenderal meminta DPD KNPI Kalimantan Tengah menyelenggarakan rapat pleno, membuka dan memverifikasi dokumen primer mengenai status ketua, serta membedakan kondisi berhalangan sementara dengan kekosongan tetap.
FKPKT juga menekankan pentingnya verifikasi dokumen primer agar keputusan organisasi tidak semata-mata bertumpu pada informasi media ataupun tafsir sepihak.
Sementara itu, Cipayung Plus Kalimantan Tengah sebelumnya menyampaikan sikap yang pada pokoknya menolak Plh dan mendorong penyelenggaraan Musdalub.
Kedua arus kepemudaan tersebut memiliki titik temu pada agenda kelembagaan, yakni mendorong agar legitimasi kepemimpinan KNPI dikembalikan kepada mekanisme organisasi. Namun, titik temu tersebut tidak serta-merta dapat dimaknai sebagai kesepakatan mengenai figur tertentu.
Di sinilah Damai menempatkan gagasan KNPI sebagai Rumah Bersama. Menurutnya, organisasi tersebut semestinya menjadi ruang perjumpaan berbagai latar belakang pemuda, tempat kaderisasi berlangsung, gagasan dipertukarkan, dan kepemimpinan diuji melalui mekanisme organisasi.
Dengan demikian, kontestasi kepemimpinan tidak semata dipandang sebagai perebutan posisi, tetapi sebagai proses menghadirkan alternatif kader yang dapat diuji secara terbuka melalui forum organisasi yang sah.
Bagi Damai, regenerasi kepemimpinan tidak cukup berhenti pada simbol identitas.
Figur yang nantinya tampil dalam kontestasi Ketua DPD KNPI Kalimantan Tengah perlu memiliki kapasitas mengelola organisasi yang majemuk, memahami AD/ART, membangun komunikasi dengan organisasi kepemudaan dan DPD KNPI kabupaten/kota, membaca persoalan daerah, membentuk kader, serta merespons berbagai persoalan sosial dan kebencanaan.
Karena itu, dorongan kepada kader muda Dayak dari lingkungan Cipayung Plus diarahkan pada figur yang memiliki rekam organisasi, kemampuan membaca persoalan daerah, kecakapan berorganisasi, dan komitmen terhadap mekanisme demokratis.
Anggaran Dasar KNPI hasil Kongres XVI 2022 menempatkan KNPI sebagai wadah berhimpun organisasi kemasyarakatan pemuda, dengan tujuan antara lain memperkuat persatuan dan kesatuan pemuda, mengembangkan wawasan kebangsaan, memberdayakan potensi pemuda, serta mendorong regenerasi kepemimpinan.
Dalam kerangka tersebut, Damai mendorong Cipayung Plus tidak hanya mengambil posisi dalam merespons persoalan transisi kepemimpinan, tetapi juga membuka ruang bagi munculnya alternatif kader.
Apabila terdapat kader muda Dayak yang memenuhi persyaratan, memiliki rekam organisasi, mampu diterima lintas kelompok, dan siap diuji dalam Musdalub, figur tersebut dapat didorong memasuki arena secara terbuka. Pada saat yang sama, ruang tersebut tetap terbuka bagi kader-kader lain yang memenuhi ketentuan organisasi.
Gagasan itu menempatkan identitas dan kemajemukan bukan sebagai dua hal yang harus dipertentangkan. Identitas dapat menjadi akar, sementara KNPI menjadi ruang bersama untuk membangun kepemimpinan yang bekerja di tengah keberagaman pemuda Kalimantan Tengah.
Pada akhirnya, “Kebangkitan Identitas Pemuda” yang digaungkan Damai diarahkan pada satu gagasan mengenai regenerasi, yaitu menghadirkan figur yang memiliki akar budaya, kapasitas organisasi, serta mandat yang diperoleh melalui proses yang sah.
Memasuki 1 Oktober 2026, gagasan tersebut dirangkai dalam sebuah prinsip, yakni identitas memberi akar, organisasi memberi ruang, musyawarah memberi legitimasi, dan pengabdian memberi arti bagi kepemimpinan.(red/j)
