Sampit, Habarkalimantantengah.com - Tidak semua pahlawan mengenakan seragam. Sebagian memilih hadir dalam diam, datang ketika sirene berbunyi, asap membumbung, atau bencana melanda. Di antara mereka, ada sosok Wisnu Chandra, pemuda berusia 22 tahun asal Baamang Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), yang menjadikan kepedulian terhadap sesama sebagai jalan pengabdiannya.
Di usia ketika banyak anak muda sedang merancang masa depan, Wisnu justru membagi waktunya untuk berada di tengah masyarakat yang membutuhkan pertolongan. Di balik aktivitasnya sebagai pelaku UMKM dan petani, ia aktif sebagai relawan kebencanaan dan kemanusiaan, terlibat dalam berbagai aksi penyelamatan, penanganan kebakaran, hingga edukasi kesiapsiagaan bencana.
Perjalanan itu tidak lahir begitu saja. Semua bermula dari sebuah peristiwa yang masih membekas dalam ingatannya.
Pada 2013, kebakaran besar melanda kawasan Simpang Tiga Baamang Tengah, Sampit. Saat itu, Wisnu menyaksikan langsung kobaran api yang meluluhlantakkan rumah-rumah warga. Kepanikan, tangis, dan perjuangan masyarakat menyelamatkan anggota keluarga serta harta benda menjadi pemandangan yang tak mudah dilupakan.
Bagi sebagian orang, peristiwa itu mungkin hanya menjadi kenangan. Namun bagi Wisnu, musibah tersebut justru menjadi titik balik yang mengubah arah hidupnya.
Ia memutuskan untuk tidak lagi sekadar menjadi penonton ketika bencana terjadi. Sejak saat itu, tekad untuk membantu sesama tumbuh semakin kuat dan terus mengiringi langkahnya hingga kini.
"Menyaksikan perjuangan korban dan masyarakat yang berusaha menyelamatkan harta benda maupun nyawa membuat saya bertekad menjadi relawan. Saya tidak ingin hanya menjadi penonton ketika ada orang yang membutuhkan pertolongan. Kepedulian terhadap sesama harus diwujudkan dalam tindakan," ujar Wisnu, Selasa (28/7/2026).
Tekad tersebut kemudian diwujudkan melalui keterlibatan aktif di berbagai organisasi kerelawanan. Di sejumlah komunitas, Wisnu dikenal dengan nama panggilan "Pank5".
Ia tercatat sebagai anggota Relawan Pemadam Api Swadaya (RPAS) Baamang Tengah Sampit dengan nomor registrasi 08, pengurus Team Rescue Kalimantan, anggota Himpunan Forum Sampit Siaga nomor registrasi 002, anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) SJTB Yogyakarta nomor registrasi 042, Relawan Potensi SAR Daerah Istimewa Yogyakarta, anggota Komunikasi Bencana Nasional PB dan SAR, serta anggota Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Komunitas (PRBBK) Nasional.
Bagi Wisnu, menjadi relawan bukan sekadar hadir saat musibah terjadi. Kerja kemanusiaan, menurutnya, menuntut kesiapan fisik, kemampuan teknis, kerja sama, dan kemauan untuk terus belajar agar dapat memberikan pertolongan secara tepat.
Di tengah kesibukannya mengembangkan usaha dan mengelola lahan pertanian, ia tetap menyisihkan waktu untuk mengikuti pelatihan, memperkuat jejaring relawan, dan turun langsung ketika masyarakat membutuhkan bantuan.
Baginya, pekerjaan menjadi sumber penghidupan, sedangkan kerelawanan adalah panggilan hati yang memberi makna lebih dalam bagi kehidupan.
"Panggilan jiwa sosial bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki untuk diberikan. Yang terpenting adalah kemauan untuk hadir dan mengulurkan tangan ketika ada sesama yang membutuhkan," tuturnya.
Kisah Wisnu menjadi pengingat bahwa kepedulian tidak mengenal usia maupun profesi. Berawal dari pengalaman menyaksikan sebuah musibah, ia memilih mengubah rasa prihatin menjadi aksi nyata yang terus dijalani hingga hari ini.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat, semangat gotong royong dan kerelawanan tetap menjadi nilai yang relevan. Kehadiran para relawan bukan hanya membantu saat keadaan darurat, tetapi juga menumbuhkan harapan bahwa masih banyak orang yang bersedia bergerak untuk sesama.
Melalui kisahnya, Wisnu berharap semakin banyak generasi muda yang berani mengambil peran, sekecil apa pun, demi menciptakan lingkungan yang lebih peduli dan tangguh menghadapi bencana.
"Saya berharap langkah kecil ini dapat menginspirasi generasi muda untuk tidak ragu peduli, bergerak, dan menjadi bagian dari solusi. Ketika kita saling membantu, sekecil apa pun tindakan itu, selalu ada harapan yang bisa kita hadirkan bagi mereka yang sedang tertimpa musibah," pungkasnya.(red/f)
