Momentum Hari Bumi, GMKI Soroti Lonjakan Deforestasi di Kalteng

Palangka Raya, Habarkalimantantengah.com - Peringatan Hari Bumi Internasional tahun ini tak lagi sekadar seremoni. Di tengah alarm krisis yang kian nyaring, suara dari kalangan mahasiswa muncul sebagai pengingat keras, yakni bumi sedang tidak baik-baik saja.

Ketua Bidang Aksi dan Pelayanan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Palangka Raya, Yosafat Menteng, melontarkan kritik tajam terhadap kondisi lingkungan di Kalimantan Tengah yang dinilainya telah memasuki fase darurat, bukan hanya secara ekologis, tetapi juga moral dan spiritual.

Lonjakan deforestasi menjadi bukti paling nyata. Sepanjang 2025, sekitar 56.900 hektare hutan lenyap, melonjak drastis dari 33.389 hektare pada 2024. Hingga April 2026, Kalteng bahkan menempati posisi teratas secara nasional dalam laju kehilangan hutan. Dalam empat tahun terakhir (2021–2024), total sekitar 240 ribu hektare tutupan hutan alam telah hilang, sebuah kehilangan yang tak sekadar angka, melainkan kehancuran ekosistem yang membutuhkan puluhan hingga ratusan tahun untuk pulih.

Namun bagi Yosafat, persoalan ini bukan lagi soal data atau kurangnya kajian. Semua sudah terang. Yang absen adalah keberanian.

Alih fungsi lahan berskala besar, ekspansi konsesi korporasi, hingga proyek pembangunan yang menyingkirkan hutan disebutnya sebagai “rantai sebab” yang terus dibiarkan. Dalam situasi ini, diam sama artinya dengan ikut merusak.

“Ini bukan hanya kegagalan sistem. Ini kegagalan kita sebagai manusia yang diberi mandat untuk menjaga, tetapi justru merusak,” ujarnya, Kamis (23/4/2026).

Ia kemudian menggeser diskursus dari sekadar kritik menuju refleksi yang lebih dalam. Manusia, kata dia, telah kehilangan kesadaran sebagai penjaga bumi. Padahal dalam nilai iman, posisi itu jelas bahwa manusia adalah perawat ciptaan, bukan eksploitator.

Dari titik itulah Yosafat mendorong gagasan pertobatan ekologis, sebuah konsep yang ia tegaskan bukan simbolik, melainkan tuntutan perubahan nyata. Perubahan dari eksploitasi menuju pemulihan. Dari pembiaran menuju keberanian. Dari keuntungan jangka pendek menuju keberlanjutan generasi.

Pertobatan ini, lanjutnya, harus terwujud dalam tindakan konkret: berani mengkritik kebijakan yang merusak, menolak praktik eksploitatif, hingga membangun pola hidup yang berpihak pada kelestarian.

“Hari Bumi bukan lagi sekadar peringatan. Ini alarm keras. Waktu kita tidak banyak. Jika kerusakan ini terus berlangsung, yang kita wariskan bukan hutan, tetapi krisis yang tak terpulihkan,” tegasnya.

Di ujung pernyataannya, Yosafat tidak menawarkan kenyamanan, melainkan tantangan. Ia mengajak mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat untuk keluar dari zona aman, karena masa depan, kata dia, sedang dipertaruhkan hari ini.

“Merawat bumi bukan lagi pilihan moral. Ini adalah bentuk pertobatan paling nyata. Jika kita menunda, maka sesungguhnya kita sedang mewariskan bencana bagi generasi berikutnya,” tandasnya.(red)

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال