Mengantar Leluhur menuju Keabadian, Ritual Tiwah Sakral warnai Kereng Bangkirai

Palangka Raya, Habarkalimantantengah.com - Lantunan doa suci, serta nuansa khidmat menyelimuti Kelurahan Kereng Bangkirai, Kecamatan Sebangau, Kota Palangka Raya. Di kawasan itu, umat Hindu Kaharingan kembali menggelar Ritual Tiwah, sebuah upacara sakral yang menjadi puncak penghormatan kepada leluhur sekaligus simbol penyempurnaan perjalanan roh menuju alam keabadian sesuai ajaran Hindu Kaharingan.

Rangkaian ritual dimulai pada Kamis (16/7/2026) dan akan berlangsung hingga 31 Juli 2026. Selama lebih dari dua pekan, masyarakat adat Dayak bersama umat Hindu Kaharingan bergotong royong menjalankan setiap tahapan upacara yang telah diwariskan secara turun-temurun, menjadikan Tiwah bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga peristiwa budaya yang sarat nilai spiritual, persaudaraan, dan kebersamaan.

Ketua Panitia Tiwah, Yepriduga, mengatakan prosesi diawali dengan tabuh pertama melalui persembahan satu ekor sapi dan dua ekor kerbau. Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan tabuh kedua pada Jumat (17/7/2026) pagi, disertai persembahan dua ekor babi dan empat ekor kerbau sesuai tata cara adat dan ajaran Hindu Kaharingan.

"Secara keseluruhan terdapat tujuh ekor hewan persembahan, yakni enam ekor kerbau dan satu ekor sapi yang digunakan dalam berbagai tahapan prosesi sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur," ujar Yepriduga, Jumat (17/7/2026).

Ia menjelaskan, Ritual Tiwah tidak hanya diperuntukkan bagi arwah leluhur, tetapi juga mengandung doa dan harapan bagi mereka yang masih hidup. Pada penghujung rangkaian akan dilaksanakan Belian Balaku Untung, ritual memohon keselamatan, kesehatan, rezeki, serta keberkahan bagi keluarga dan masyarakat.

Selanjutnya, digelar ritual Bepapas, yaitu prosesi penyucian diri dan lingkungan dari segala hal yang dianggap membawa pengaruh buruk, sebagai harapan agar kehidupan masyarakat senantiasa dilimpahi kedamaian, perlindungan, dan kesejahteraan.

Puncak kesakralan Tiwah ditandai dengan pemindahan tulang-belulang ke dalam sandung. Dalam ajaran Hindu Kaharingan, prosesi ini merupakan penghormatan terakhir sekaligus simbol penyempurnaan perjalanan roh menuju alam keabadian.

Setelah seluruh rangkaian selesai, panitia melaksanakan pengkahem, yaitu membersihkan dan membongkar seluruh perlengkapan ritual, kemudian memindahkan sapundu ke lokasi sandung sebagai penanda bahwa seluruh prosesi Tiwah telah dituntaskan sesuai ketentuan adat.

Menurut Yepriduga, Tiwah merupakan identitas spiritual masyarakat Dayak yang tidak hanya mengajarkan penghormatan kepada leluhur, tetapi juga mempererat semangat gotong royong, persatuan, dan kepedulian antarsesama.

"Kami berharap pemerintah terus memberikan dukungan terhadap pelaksanaan Ritual Tiwah, baik melalui pembinaan, pelestarian budaya, maupun penyediaan fasilitas. Tiwah bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga warisan budaya yang menjadi kebanggaan masyarakat Kalimantan Tengah dan harus terus diwariskan kepada generasi muda," katanya.

Ia menambahkan, sinergi antara pemerintah, masyarakat adat, dan umat Hindu Kaharingan menjadi kunci agar nilai-nilai spiritual, adat, dan budaya yang terkandung dalam Ritual Tiwah tetap lestari serta semakin dikenal sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.(red/j)

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال