Setiap tanggal 2 Mei, bangsa ini kembali mengenang Hari Pendidikan Nasional, sebuah momentum yang berakar dari pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang pentingnya pendidikan sebagai alat pembebasan.
Namun, di balik upacara dan slogan yang berulang tiap tahun, ada pertanyaan yang layak diajukan, yakni sejauh mana pendidikan benar-benar menjadi jalan kemajuan, bukan sekadar simbol?
Realitas di lapangan masih menyisakan banyak ironi. Ketimpangan akses pendidikan antara kota dan daerah terpencil masih terasa nyata.
Di satu sisi, kita berbicara tentang transformasi digital, kecerdasan buatan, dan pendidikan berbasis teknologi.
Di sisi lain, masih ada sekolah dengan fasilitas minim, guru yang berjuang dengan keterbatasan, serta peserta didik yang harus menempuh jarak jauh hanya untuk belajar.
Hari Pendidikan Nasional seharusnya tidak berhenti pada seremoni formal. Ia mesti menjadi cermin untuk mengevaluasi, apakah sistem pendidikan kita sudah adil?
Apakah kurikulum benar-benar membentuk karakter, atau hanya mengejar angka? Apakah guru telah ditempatkan sebagai pilar utama, atau justru terbebani oleh administrasi yang menumpuk?
Lebih dari itu, pendidikan hari ini menghadapi tantangan baru, arus informasi yang tak terbendung, perubahan sosial yang cepat, serta kebutuhan akan keterampilan yang terus berkembang.
Pendidikan tidak lagi cukup hanya mengajarkan “apa yang harus diketahui,” tetapi juga “bagaimana berpikir” dan “bagaimana beradaptasi.”
Momentum ini semestinya mendorong semua pihak, pemerintah, tenaga pendidik, orang tua, hingga masyarakat untuk kembali pada esensi pendidikan, yaitu memanusiakan manusia.
Pendidikan bukan sekadar ruang kelas, melainkan proses panjang membentuk karakter, integritas, dan daya pikir kritis.
Jika Hari Pendidikan Nasional hanya menjadi agenda tahunan tanpa perubahan nyata, maka kita sedang merayakan sesuatu yang belum sepenuhnya kita wujudkan. Namun jika dijadikan titik refleksi dan aksi, hari ini bisa menjadi awal dari perbaikan yang sesungguhnya.
Karena pada akhirnya, masa depan bangsa tidak ditentukan oleh seberapa megah perayaannya, melainkan seberapa serius kita memperbaiki pendidikannya.()
Tags
Humaniora
