KNPI Kalteng Harus Keluar dari Sekat Perbedaan, Handep Hapakat jadi Fondasi Persatuan

Palangka Raya, Habarkalimantantengah.com - Menyatukan pemuda bukan sekadar menghimpun barisan. Dibutuhkan kebesaran hati untuk merangkul perbedaan, kedewasaan dalam menyikapi dinamika, serta kesediaan menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

Semangat itulah yang dinilai harus mewarnai proses konsolidasi Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kalimantan Tengah di bawah kepemimpinan Karteker Ketua DPD KNPI Kalteng, Damai Alam Usop.

Bagi Wawan Nopardo Andika Saputra, unsur Majelis Pemuda Indonesia (MPI) KNPI Kalimantan Tengah yang berada dalam barisan konsolidasi kepemimpinan Damai Alam Usop, momentum ini bukan semata-mata tentang penataan kepengurusan. Lebih dari itu, terdapat tanggung jawab untuk mengembalikan kekuatan kolektif, merawat kepercayaan, dan membangun kembali orientasi gerakan kepemudaan.

Wawan menyatakan dukungannya terhadap keputusan Dewan Pengurus Pusat (DPP) KNPI yang menetapkan Damai Alam Usop sebagai Ketua Karteker DPD KNPI Provinsi Kalimantan Tengah melalui Surat Keputusan Nomor KEP.017/DPP KNPI/X/2026 tertanggal 26 Oktober 2026.

Menurutnya, keputusan tersebut harus dimaknai sebagai momentum penataan kelembagaan sekaligus kesempatan untuk membangun konsolidasi yang lebih inklusif, terarah, dan berorientasi pada masa depan organisasi.

“Kepemimpinan karteker di bawah saudara Damai Alam Usop merupakan amanah organisasi yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan dikawal secara kolektif. Ini bukan sekadar persoalan struktur atau pergantian kepemimpinan, melainkan bagaimana membangun kembali kekuatan, kepercayaan, dan marwah gerakan pemuda Kalimantan Tengah,” ujar Wawan, Senin (2/11/2026).

Di tengah dinamika konsolidasi tersebut, Wawan mengingatkan pentingnya menghidupkan kembali nilai luhur Handep Hapakat sebagai fondasi etis dalam membangun kebersamaan.

Falsafah yang merepresentasikan semangat gotong royong, musyawarah, persaudaraan, dan kerja kolektif masyarakat Kalimantan Tengah itu dinilainya memiliki relevansi kuat dengan tantangan organisasi kepemudaan saat ini.

Handep Hapakat, menurutnya, harus hadir sebagai nilai yang membimbing setiap proses pengambilan keputusan, membangun komunikasi, hingga menyelesaikan perbedaan di internal organisasi.

Sebab, persatuan tidak lahir dari keseragaman pandangan, tetapi dari kesediaan untuk saling menghormati dan menemukan titik temu demi kepentingan yang lebih besar.

“Handep Hapakat tidak boleh berhenti sebagai slogan atau simbol kebudayaan. Nilai itu harus hidup dalam tindakan dan menjadi etika bersama ketika kita membangun organisasi. Kepentingan pemuda harus lebih besar daripada ego pribadi maupun kelompok. Perbedaan bukan alasan untuk terpecah, melainkan ruang untuk memperkuat kebersamaan,” tegasnya.

Ia berpandangan, kepemimpinan Damai Alam Usop memiliki tanggung jawab strategis untuk merajut kembali komunikasi antarelemen kepemudaan, menghimpun berbagai potensi organisasi, serta membangun ruang partisipasi yang terbuka dan konstruktif.

Dengan landasan tersebut, konsolidasi diharapkan tidak hanya menghasilkan penataan struktural, tetapi juga melahirkan kesadaran kolektif bahwa KNPI merupakan rumah bersama bagi berbagai organisasi kepemudaan.

Wawan menegaskan, sebagai bagian dari unsur MPI KNPI Kalimantan Tengah, dirinya berkomitmen memberikan dukungan moral, pemikiran, dan kontribusi strategis terhadap pelaksanaan mandat kepemimpinan karteker.

Menurutnya, MPI memiliki posisi penting dalam memberikan pertimbangan, menjaga kesinambungan nilai organisasi, serta mendorong proses regenerasi kepemimpinan pemuda yang berintegritas.

Dukungan terhadap kepemimpinan karteker, lanjutnya, juga harus diwujudkan melalui kerja nyata, komunikasi yang sehat, dan kesediaan seluruh unsur organisasi untuk menjalankan peran masing-masing.

“Kami ingin memastikan konsolidasi ini berjalan dengan semangat kebersamaan, bukan justru memperlebar perbedaan. Kepemimpinan Karteker Damai Alam Usop perlu diperkuat melalui komunikasi terbuka, kerja kolektif, dan keterlibatan seluruh unsur organisasi. Amanah DPP KNPI harus dijalankan secara bertanggung jawab sesuai mekanisme organisasi,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti sejumlah agenda penting yang perlu menjadi perhatian, antara lain penataan DPD KNPI kabupaten/kota, verifikasi Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP), serta persiapan Musyawarah Daerah (Musda).

Seluruh tahapan tersebut, menurut Wawan, harus dilaksanakan secara transparan, terukur, dan berlandaskan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) KNPI.

Baginya, legitimasi organisasi tidak hanya ditentukan oleh terbentuknya kepengurusan, tetapi juga oleh proses yang ditempuh secara tertib, terbuka, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Lebih jauh, Wawan mengingatkan bahwa konsolidasi KNPI tidak boleh terjebak pada urusan jabatan, perebutan struktur, ataupun kepentingan sesaat.

Organisasi kepemudaan ini harus mampu menghadirkan manfaat yang lebih luas melalui pengembangan intelektual, kaderisasi kepemimpinan, pemberdayaan ekonomi, pelestarian kebudayaan, serta keterlibatan aktif generasi muda dalam pembangunan daerah.

Menurutnya, KNPI memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi ruang persemaian gagasan, pengembangan kapasitas, dan lahirnya kepemimpinan muda yang mampu menjawab tantangan zaman.

“KNPI tidak boleh hanya sibuk berbicara tentang kepengurusan dan jabatan. Organisasi ini harus memiliki kekuatan kelembagaan, ketajaman gagasan, dan keberanian mengambil peran dalam menjawab persoalan masyarakat. Pemuda tidak cukup hanya menjadi penonton pembangunan. Mereka harus hadir sebagai bagian dari solusi,” katanya.

Ia berharap momentum konsolidasi di bawah kepemimpinan Damai Alam Usop dapat menjadi awal penguatan kembali peran KNPI sebagai wadah berhimpun, berproses, dan mengabdi bagi kepentingan masyarakat Kalimantan Tengah.

Menjelang pelaksanaan Musda, Wawan mengajak seluruh elemen kepemudaan untuk mengedepankan kedewasaan berorganisasi, menjaga komunikasi, serta memberikan ruang yang proporsional bagi setiap perbedaan pandangan.

Ia menilai, keterbukaan terhadap dialog merupakan bagian penting dalam membangun konsolidasi yang sehat. Tidak boleh ada ruang yang tertutup bagi gagasan konstruktif sepanjang disampaikan dengan niat membangun dan tetap berpedoman pada ketentuan organisasi.

Menurutnya, Musda harus menjadi momentum untuk memperkuat legitimasi kelembagaan sekaligus menentukan arah masa depan KNPI Kalimantan Tengah.

“Kita harus bergerak dalam semangat Handep Hapakat. Momentum kepemimpinan Damai Alam Usop hendaknya menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan, membangun kepercayaan, dan menyatukan kembali potensi pemuda Kalimantan Tengah,” ujarnya.

Ia menegaskan, seluruh proses konsolidasi perlu dikawal dengan komitmen bersama hingga terlaksananya Musda sesuai mandat dan mekanisme yang ditetapkan DPP KNPI.

“Mari satukan gagasan, rapatkan barisan, dan kedepankan kepentingan organisasi. Sebab, kekuatan pemuda Kalimantan Tengah tidak diukur dari seberapa seragam pandangan kita, tetapi dari seberapa besar kemampuan kita mengelola perbedaan, membangun kebersamaan, dan bekerja untuk tujuan yang lebih besar,” pungkasnya.(red/j)

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال