Palangka Raya, Habarkalimantantengah.com - Masa depan masyarakat Dayak tidak cukup hanya ditopang oleh kebesaran sejarah, keluhuran adat, dan warisan budaya leluhur. Masa depan itu juga harus diperjuangkan melalui kualitas sumber daya manusia, kekuatan intelektual, kemandirian ekonomi, serta keberanian generasi muda mengambil peran dalam menentukan arah pembangunan.
Pesan kuat tersebut disampaikan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Perkumpulan Pemuda Dayak Pasukan Lawung Bahandang (PERPEDAYAK PLB), Wawan Nopardo Andika Saputra, S.Pd., M.Pd., menyusul penunjukan Bush Valentino Lambung, S.H., sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PERPEDAYAK PLB Provinsi Kalimantan Tengah.
Wawan menyampaikan ucapan selamat dan sukses sekaligus menitipkan pesan penting tentang arah perjuangan organisasi. Baginya, amanah kepemimpinan bukan sekadar persoalan struktur, jabatan, ataupun legitimasi organisasi, melainkan kesempatan untuk membangun persatuan dan membuktikan bahwa pemuda Dayak memiliki kapasitas untuk berkontribusi lebih besar bagi masyarakat dan daerah.
“Atas nama pribadi dan seluruh jajaran DPP PERPEDAYAK PLB, saya menyampaikan selamat dan sukses kepada Saudara Bush Valentino Lambung, S.H. Amanah ini bukan sekadar kehormatan atau kedudukan organisasi, melainkan tanggung jawab moral untuk mengabdi, mempersatukan, serta memperjuangkan kepentingan masyarakat Dayak secara bermartabat, konstitusional, dan bertanggung jawab,” tegas Wawan, Jumat (6/11/2026).
Menurutnya, tantangan generasi muda Dayak hari ini jauh lebih luas daripada sekadar mempertahankan identitas. Perubahan teknologi digital, kompetisi ekonomi, pergeseran sosial budaya, persoalan lingkungan, hingga dinamika kebijakan pembangunan menuntut lahirnya generasi yang tidak hanya kuat dalam identitas, tetapi juga unggul dalam kompetensi.
Pemuda Dayak harus mampu memasuki ruang-ruang strategis, memperluas penguasaan ilmu pengetahuan, membangun kemandirian, serta mengambil bagian dalam proses pembangunan. Sebab, tanpa kesiapan sumber daya manusia, potensi besar daerah dan kekayaan warisan leluhur tidak akan cukup menjadi jaminan bagi masa depan generasi berikutnya.
“ISEN MULANG! Pantang Mundur! Semboyan luhur masyarakat Dayak Kalimantan Tengah harus diwujudkan dalam kerja nyata. Pemuda Dayak tidak boleh hanya menjadi penonton di tengah perubahan zaman. Kita harus hadir sebagai pelaku pembangunan, pencipta peluang, penjaga nilai-nilai adat, sekaligus penggerak kemajuan masyarakat,” ujarnya.
Wawan mengingatkan, menjaga kehormatan dan identitas Dayak tidak berarti membangun sekat dengan kemajuan. Justru, jati diri dan kearifan lokal harus menjadi kekuatan untuk melahirkan generasi yang berpendidikan, profesional, terbuka, dan mampu bersaing tanpa kehilangan akar kebudayaannya.
Identitas bukan alasan untuk tertinggal. Adat bukan penghalang modernisasi. Sebaliknya, keduanya merupakan fondasi moral yang dapat mengarahkan kemajuan agar tetap berpijak pada nilai, martabat, dan tanggung jawab sosial.
“Kita harus menjadi generasi yang berakar kuat pada adat dan budaya, tetapi berpikiran maju serta mampu bersaing pada tingkat nasional maupun global. Identitas Dayak adalah kekuatan moral dan kebudayaan yang harus menjadi landasan untuk berkarya, bukan alasan untuk tertinggal,” lanjutnya.
Lebih jauh, Wawan menyoroti posisi strategis generasi muda dalam mengawal pembangunan Kalimantan Tengah. Menurutnya, pemuda tidak boleh hanya menjadi kelompok yang menyaksikan perubahan, tetapi harus memiliki kapasitas untuk ikut menentukan kualitas perubahan tersebut.
Akses pendidikan yang berkualitas, kesempatan kerja, pengembangan kewirausahaan, perlindungan hak-hak masyarakat adat, pelestarian lingkungan, serta keterlibatan dalam pengambilan kebijakan publik merupakan sejumlah agenda yang perlu mendapat perhatian serius.
Ia berpandangan, keberhasilan pembangunan tidak semestinya hanya diukur dari besarnya investasi, pertumbuhan ekonomi, atau panjangnya infrastruktur yang dibangun. Lebih mendasar dari itu, pembangunan harus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal, memberikan kesempatan yang adil, menghormati hak masyarakat adat, dan menjaga keberlanjutan lingkungan hidup.
“Kita menyambut pembangunan dan investasi yang membawa manfaat bagi daerah. Namun, pemuda Dayak juga harus memiliki kemampuan, pengetahuan, dan keberanian untuk memastikan bahwa masyarakat lokal tidak terpinggirkan dari tanah kelahirannya sendiri. Kemajuan harus berjalan beriringan dengan keadilan, keberlanjutan, dan penghormatan terhadap martabat manusia,” tegasnya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kemajuan daerah harus memberikan ruang yang setara bagi masyarakat lokal untuk tumbuh, berkembang, dan menikmati hasil pembangunan di tanahnya sendiri.
Dalam konteks kepemimpinan PERPEDAYAK PLB di Kalimantan Tengah, Wawan berharap Bush Valentino mampu menjadikan momentum penunjukan sebagai titik awal penguatan organisasi yang lebih solid, profesional, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.
Konsolidasi kepengurusan, penguatan kaderisasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, perluasan jejaring kerja sama antarlembaga, serta pembenahan tata kelola organisasi sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) menjadi agenda penting yang perlu diperhatikan.
Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan terbesar sebuah organisasi bukan sekadar membentuk kepengurusan atau memperbanyak aktivitas, melainkan menjaga integritas, menyatukan perbedaan, dan memastikan setiap gerakan memiliki manfaat yang jelas.
PERPEDAYAK PLB, menurutnya, tidak boleh kehilangan orientasi perjuangan karena kepentingan pribadi, persaingan internal, ataupun kebanggaan yang berhenti pada simbol dan atribut.
“Kebesaran organisasi tidak diukur dari banyaknya atribut, kerasnya suara, atau tingginya jabatan, melainkan dari integritas pengurus, kekuatan persatuan, kualitas kader, dan manfaat nyata yang dirasakan masyarakat. Kita harus membuktikan bahwa pemuda Dayak mampu menjadi teladan dalam berpikir, bersikap, dan bertindak,” ungkapnya.
Wawan juga menegaskan bahwa perjuangan menjaga harkat dan martabat masyarakat Dayak harus senantiasa ditempatkan dalam koridor konstitusi dan kehidupan berbangsa. Berlandaskan Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta semangat Negara Kesatuan Republik Indonesia, perjuangan tersebut harus mengedepankan persaudaraan, toleransi, penghormatan terhadap keberagaman, dan supremasi hukum.
Mengakhiri pernyataannya, Wawan mengajak generasi muda Dayak, tokoh adat, kalangan intelektual, mahasiswa, pelaku usaha, dan seluruh elemen masyarakat untuk tidak berjalan sendiri-sendiri. Persatuan dan kolaborasi dinilainya menjadi modal penting untuk memperkuat posisi generasi muda dalam menghadapi tantangan masa depan Kalimantan Tengah.
“Jangan pernah kehilangan jati diri, jangan takut menghadapi tantangan, dan jangan berhenti meningkatkan kemampuan. Jadilah pemuda Dayak yang berilmu, berani, berintegritas, dan bermanfaat. Kita tidak cukup hanya mewarisi kebesaran sejarah leluhur, tetapi juga harus mampu menciptakan sejarah kemajuan bagi generasi yang akan datang,” tandasnya.
Ia kemudian menegaskan kembali semangat perjuangan yang menjadi identitas masyarakat Dayak, yaitu “ISEN MULANG! PANTANG MUNDUR! Bersatu dalam keberagaman, teguh menjaga adat dan budaya, serta terus bergerak menuju masyarakat Dayak yang maju, mandiri, sejahtera, dan bermartabat.”(red/j)
