Buntok, Habarkalimantantengah.com - Angka itu bukan sekadar statistik. 7.634,46 hektare hutan dan lahan di Kalimantan Tengah telah terbakar. Di tengah kemarau yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir, luasan tersebut menjadi alarm keras bahwa ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih membayangi bumi Kalimantan.
Berdasarkan analisis satelit Kementerian Kehutanan, luas karhutla di Kalimantan Tengah mencapai 7.634,46 hektare dan menempatkan provinsi ini di posisi kesembilan secara nasional.
Ancaman itu kini terasa semakin dekat di Kabupaten Barito Selatan. Di Kecamatan Karau Kuala, kondisi kemarau ekstrem dan mengeringnya lahan, termasuk lahan gambut, membuat potensi kebakaran semakin tinggi.
Kepala Desa Teluk Betung, Frans Dudy, menyerukan kewaspadaan bersama. Ia meminta masyarakat tidak lengah menjaga hutan dan lahan, terlebih ketika hujan belum dapat dipastikan kapan kembali mengguyur wilayah tersebut.
“Mohon kesadaran dan pengertian bersama pentingnya menjaga hutan kita tetap lestari dan terhindar dari karhutla di musim kemarau yang tidak tahu kapan turun hujan,” ujar Frans, Minggu (23/8/2026).
Peringatan itu bukan tanpa dasar. Pada Minggu (23/8/2026), dua titik api terpantau berada di wilayah Desa Teluk Betung, masing-masing di kawasan Kayu Ramba dan Bunga Sayang.
Dua titik api tersebut kembali menegaskan satu hal, yaitu dalam kondisi kemarau ekstrem, percikan sekecil apa pun dapat berubah menjadi ancaman besar ketika bertemu dengan lahan kering dan vegetasi yang mudah terbakar.
Sebelumnya, Camat Karau Kuala Adriansyah menyampaikan bahwa Kabupaten Barito Selatan berada dalam kondisi kemarau ekstrem dan telah berstatus tanggap darurat bencana karhutla serta kekeringan.
Kondisi suhu udara yang panas dan lahan gambut yang mengering, menurutnya, menjadi kombinasi yang meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran.
Karena itu, ia memberikan peringatan tegas kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Praktik tebang-bakar, kata Adriansyah, bukan hanya berpotensi merusak ekosistem dan mencemari lingkungan. Dampaknya dapat menjalar lebih jauh, di antaranya mengancam kesehatan masyarakat, mengganggu aktivitas ekonomi, hingga membawa konsekuensi hukum bagi pelakunya.
Di tengah ancaman kekeringan, masyarakat Kelurahan Bangkuang dan 10 desa lainnya di Kecamatan Karau Kuala juga diminta menggunakan air bersih secara bijak. Setiap tetes air menjadi berharga ketika sumber air mulai menyusut dan hujan belum kunjung datang.
Kewaspadaan pun diminta dimulai dari perkara yang tampak sederhana. Puntung rokok tidak boleh dibuang sembarangan, terutama di kawasan semak belukar dan lahan yang mengering.
Begitu pula ketika terlihat kepulan asap atau indikasi titik api. Masyarakat diminta segera melaporkannya kepada layanan darurat atau posko siaga terdekat.
Dalam situasi seperti ini, terlambat beberapa menit dapat berarti semakin luasnya api yang harus dijinakkan.
Adriansyah juga memberikan apresiasi kepada jajaran Polsek, Koramil, perangkat desa, Satpol PP, serta relawan yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Api (MPA). Mereka terus berada di lapangan, melakukan deteksi dini hingga berjibaku memadamkan titik api.
Namun, perjuangan menghadapi kemarau tidak hanya berlangsung di tengah kepulan asap dan panasnya medan. Di sisi lain, masyarakat juga mengetuk pintu langit melalui ikhtiar spiritual.
Salat Istisqa telah dilaksanakan sebagai bentuk doa dan ikhtiar bersama untuk memohon turunnya hujan bagi bumi Barito.
Sebab, karhutla bukan semata perkara api. Di balik setiap hektare yang terbakar, ada udara yang tercemar, ekosistem yang terluka, kesehatan yang terancam, serta kehidupan masyarakat yang ikut terdampak.(red/j)
