Saat Jabing Salimbat Menyusuri Sungai Barito, Harmoni Toleransi dan Budaya Dayak Mengalir Bersama

Buntok, Habarkalimantantengah.com - Suasana di sepanjang tepian Sungai Barito, khususnya wilayah hilir Kabupaten Barito Selatan, dalam beberapa hari terakhir tampak berbeda. Warga dari berbagai desa di bantaran sungai ramai untuk menyaksikan Jabing Salimbat, benda sakral yang dihanyutkan sebagai bagian dari puncak Ritual Wara Nyalimbat, sebuah upacara suci umat Hindu Kaharingan.

Prosesi pelarungan Jabing Salimbat dimulai dari Desa Kalahien, Kecamatan Dusun Selatan, pada Minggu (12/7/2026). Sejak saat itu, benda sakral tersebut terus mengikuti arus Sungai Barito menuju hilir dan menjadi perhatian masyarakat di setiap desa yang dilaluinya.

Di sejumlah titik, warga terlihat rela menunggu sejak pagi hingga sore hanya untuk menyaksikan Jabing Salimbat melintas. Momen yang jarang terjadi itu juga diabadikan melalui foto dan video, kemudian dibagikan di media sosial sebagai bentuk dokumentasi sekaligus penghargaan terhadap salah satu warisan budaya masyarakat Dayak.

Bagi umat Hindu Kaharingan, Jabing Salimbat bukan sekadar benda yang dihanyutkan. Larung Jabing Salimbat merupakan bagian penting dari prosesi puncak Ritual Wara Nyalimbat, yakni upacara adat dan keagamaan yang bertujuan mengantarkan roh leluhur menuju alam keabadian sesuai ajaran Kaharingan. Karena memiliki makna spiritual yang mendalam, setiap kali Jabing Salimbat melintas, masyarakat menyambutnya dengan penuh rasa hormat.

Pantauan di lapangan pada Sabtu (18/7/2026), Jabing Salimbat masih terus menyusuri aliran Sungai Barito dan melintasi wilayah Kecamatan Karau Kuala. Antusiasme masyarakat tampak begitu tinggi. Menariknya, bukan hanya umat Hindu Kaharingan yang hadir, tetapi juga warga dari berbagai latar belakang agama, suku, dan profesi turut menyaksikan.

Pemandangan itu menjadi potret nyata tingginya toleransi yang hidup di kawasan tepian Sungai Barito. Perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang bagi masyarakat untuk saling menghormati tradisi dan nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur. Mereka hadir bukan untuk mengikuti ritual keagamaan, melainkan memberikan penghormatan terhadap kearifan lokal yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Dayak.

Lebih dari sekadar prosesi adat, perjalanan Jabing Salimbat menyusuri Sungai Barito menghadirkan pesan tentang pentingnya menjaga warisan budaya di tengah arus modernisasi. Sungai yang sejak dahulu menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Dayak kembali menjadi saksi hidup bagaimana tradisi leluhur tetap lestari dan diterima dengan penuh penghormatan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Wara Nyalimbat sendiri merupakan ritual suci kematian dalam ajaran Hindu Kaharingan yang dilaksanakan masyarakat Dayak, khususnya di Barito Selatan, Kalimantan Tengah. Upacara ini bertujuan menyucikan serta mengantarkan arwah leluhur menuju alam keabadian, sekaligus menjadi wujud bakti kepada orang yang telah berpulang dan mempererat tali persaudaraan di tengah masyarakat.

Kehadiran masyarakat dari berbagai latar belakang yang turut menyaksikan larung Jabing Salimbat menjadi cerminan bahwa Sungai Barito tidak hanya mengalirkan air, tetapi juga merawat nilai-nilai persaudaraan, toleransi, dan penghormatan terhadap keberagaman budaya yang telah mengakar kuat di Bumi Dahani Dahanai Tuntung Tulus.(red/j)

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال