Palangka Raya, Habarkalimantantengah.com - Di balik hiruk-pikuk Kota Palangka Raya, sebuah kisah pilu tentang sepasang lanjut usia asal Kabupaten Gunung Mas kembali menyita perhatian publik. Keduanya hidup dalam keterbatasan di sebuah gubuk sederhana di kawasan Jalan Tjilik Riwut Km 1 yang jauh dari kata layak sebagai tempat berteduh di usia senja.
Setelah kisah mereka viral dan memantik gelombang kepedulian, Relawan Habar Kalimantan Tengah (HKT) kembali turun ke lokasi pada Kamis (4/6/2026). Dipimpin Ketua HKT, Dwi Sugiarto, kedatangan kali ini bukan sekadar membawa bantuan, tetapi memastikan bahwa perhatian publik benar-benar berbuah perubahan nyata bagi kehidupan pasangan lansia tersebut.
Kunjungan lanjutan ini menjadi penegasan bahwa gerakan kemanusiaan tidak berhenti pada momentum viral, melainkan harus berlanjut hingga ada kepastian kehidupan yang lebih manusiawi dan berkelanjutan.
Sebelumnya, tim relawan HKT menjadi salah satu pihak pertama yang menelusuri keberadaan pasangan lansia tersebut setelah informasi kondisi mereka menyebar luas di media sosial. Saat ditemukan, kondisi tempat tinggal keduanya sangat memprihatinkan.
Gubuk kecil berbahan kayu bekas dan dinding kardus itu berdiri di atas lahan milik orang lain. Di tempat sederhana itulah mereka bertahan dari panas terik dan hujan, tanpa fasilitas yang memadai untuk menjalani hidup layak.
Di dalamnya, hampir tidak ditemukan perabot rumah tangga yang layak. Persediaan pangan pun sangat terbatas. Aktivitas harian hanya bergantung pada tungku kayu sederhana untuk memasak kebutuhan paling dasar.
Melihat kondisi tersebut, HKT segera menyalurkan bantuan darurat berupa sembako dan kebutuhan pokok untuk merespons situasi yang membutuhkan penanganan cepat.
Pada kunjungan terbaru, Dwi Sugiarto yang akrab disapa Sugie itu kembali menyerahkan bantuan tambahan sekaligus memantau langsung kondisi keduanya. Ia menegaskan bahwa kehadiran relawan bukan hanya untuk memberi, tetapi juga memastikan keberlanjutan perhatian terhadap warga yang rentan.
“Kami datang kembali untuk memastikan kondisi mereka. Alhamdulillah, setelah ramai menjadi perhatian, banyak pihak ikut bergerak. Harapan kami, kebutuhan dasar mereka terus terpenuhi, dan ada langkah lanjutan agar mereka bisa hidup lebih layak dan aman,” ujar Sugie.
Ia menambahkan, kasus ini menjadi pengingat kuat bahwa masih banyak warga lanjut usia yang hidup dalam senyap, jauh dari jangkauan perlindungan sosial yang memadai. Karena itu, sinergi semua pihak menjadi kebutuhan mendesak, bukan sekadar pilihan.
Sugie juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat dan para donatur yang telah merespons cepat setelah kabar tersebut mencuat ke publik.
“Kami berterima kasih atas kepedulian semua pihak. Bantuan ini sangat berarti. Semoga menjadi amal kebaikan, dan yang paling penting mereka bisa kembali merasakan hidup yang lebih tenang dan bermartabat,” tambahnya.
Kini, kondisi pasangan lansia tersebut dilaporkan mulai membaik dibandingkan saat pertama kali ditemukan. Meski demikian, mereka masih memerlukan pendampingan dan perhatian berkelanjutan agar tidak kembali terjerat dalam kondisi serupa.
Kisah ini menjadi potret nyata bahwa di tengah laju pembangunan kota, masih ada warga yang bertahan dalam keterbatasan ekstrem.
Namun di sisi lain, hadirnya relawan dan kepedulian publik memberi secercah harapan bahwa kemanusiaan masih hidup dan bekerja di tengah masyarakat.
Lebih dari sekadar bantuan, kisah ini adalah tentang keberpihakan, tentang bagaimana empati mampu mengubah ruang sunyi menjadi ruang harapan.(red/j)
