Buntok, Habarkalimantantengah.com - Di usia ke-69 tahun, Provinsi Kalimantan Tengah terus bergerak menapaki pembangunan di berbagai sektor. Namun di balik geliat pertumbuhan dan pembangunan daerah, masih tersisa persoalan mendasar yang hingga kini menjadi keluhan masyarakat di wilayah pedalaman, yakni keterbatasan infrastruktur jalan dan jembatan yang layak.
Bagi masyarakat yang tinggal jauh dari pusat perkotaan, akses transportasi bukan sekadar sarana mobilitas, melainkan denyut utama kehidupan. Jalan yang rusak dan sulit dilalui tidak hanya memperlambat aktivitas ekonomi, tetapi juga berdampak pada pendidikan, layanan kesehatan, hingga kestabilan harga kebutuhan pokok masyarakat.
Potret itu salah satunya terlihat pada akses penghubung Kelurahan Bangkuang, Kecamatan Karau Kuala, Kabupaten Barito Selatan menuju wilayah Kabupaten Barito Timur. Jalur tersebut selama puluhan tahun menjadi urat nadi transportasi masyarakat lintas wilayah, termasuk bagi warga sejumlah desa di Kecamatan Dusun Hilir. Namun hingga kini, kondisi infrastruktur di jalur tersebut dinilai masih jauh dari harapan masyarakat.
Ketika musim penghujan dan banjir datang, sebagian ruas jalan nyaris lumpuh total. Kendaraan roda dua maupun roda empat kerap tidak dapat melintas. Warga pun terpaksa menggunakan perahu bermesin untuk mencapai titik jalan yang masih bisa dilalui kendaraan darat. Situasi tersebut menjadi ironi tersendiri di tengah usia Kalimantan Tengah yang hampir memasuki tujuh dekade.
Jhon Kenedy, putra daerah Kelurahan Bangkuang yang juga berprofesi sebagai jurnalis di Kalimantan Tengah, menilai pembangunan infrastruktur di kawasan pedalaman memerlukan perhatian yang lebih serius dan berkelanjutan.
Menurutnya, pemerintah memang telah beberapa kali melakukan perbaikan maupun peningkatan jalan melalui proyek pembangunan. Namun penanganan yang dilakukan dinilai belum sepenuhnya mampu menjawab tingkat kerusakan yang terjadi di lapangan.
“Perbaikan memang sudah beberapa kali dilakukan, tetapi kondisi jalan yang rusak berat membutuhkan penanganan yang benar-benar menyeluruh dan berkesinambungan,” ujarnya, Sabtu (23/5/2026).
Ia berharap Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dapat melanjutkan pembangunan akses jalan dan jembatan tersebut sebagai bagian dari pemerataan pembangunan daerah.
“Saya sangat berharap kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah agar peningkatan jalan dan jembatan dari Kelurahan Bangkuang menuju Barito Timur dapat terus dilanjutkan,” katanya.
Menurutnya, keberadaan infrastruktur yang memadai akan membawa dampak besar terhadap kehidupan masyarakat di wilayah pedalaman. Selain mempercepat mobilitas dan distribusi barang, akses jalan yang baik diyakini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, menjaga stabilitas harga bahan pokok, hingga mempercepat penanganan pasien rujukan menuju rumah sakit.
Di tengah momentum hari jadi ke-69 Kalimantan Tengah, suara masyarakat dari pelosok desa sejatinya bukan sekadar keluhan, melainkan harapan agar pembangunan dapat dirasakan lebih merata hingga ke wilayah terluar. Sebab bagi masyarakat pedalaman, jalan bukan hanya penghubung antarwilayah, tetapi penghubung antara harapan, pelayanan, dan masa depan yang lebih layak.(red/j)
