Perjalanan menuju Kota Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan safar (perjalanan) ruhani yang sarat makna dan keberkahan. Langkah kaki yang digerakkan niat menghadiri momen 5 Rajab, haul Abah Guru Sekumpul, seolah dituntun oleh rindu yang sama, yaitu rindu akan majelis ilmu, rindu akan keberkahan para wali Allah.
Di sepanjang jalur menuju Sekumpul, mata dan hati disuguhi pemandangan luar biasa. Rest area berubah menjadi ladang pahala. Makanan dan minuman dibagikan secara cuma-cuma, posko-posko pelayanan berdiri tanpa pamrih, dan para relawan melayani dengan senyum tulus.
Tak ada transaksi duniawi, yang ada hanya keikhlasan dan niat lillahi ta’ala. Di sinilah makna ukhuwah Islamiyah terasa hidup, bukan sekadar jargon.
Haul 5 Rajab di Sekumpul memang magnet spiritual. Jamaah yang hadir tak hanya berasal dari pelosok Kalimantan, tetapi juga dari berbagai penjuru Nusantara, bahkan mancanegara.
Perbedaan bahasa, suku, dan latar belakang seakan luruh dalam satu ikatan, yakni cinta kepada ulama, cinta kepada orang-orang saleh, dan harapan akan limpahan rahmat Allah SWT.
Saat memasuki Martapura, suasana haru semakin menguat. Warga dan relawan menyambut para jamaah layaknya keluarga sendiri. Dengan sigap mereka mengarahkan ke tempat penampungan, menyediakan makan minum, hingga membagikan aneka snack.
Tak ada wajah lelah, meski tubuh mereka telah berjibaku berhari-hari. Semua dilakukan dengan ketulusan, seolah melayani jamaah adalah kehormatan dan ibadah.
5 Rajab di Sekumpul bukan hanya tentang hadir di sebuah haul. Ia adalah pelajaran hidup tentang keikhlasan, pengorbanan, dan cinta yang diwariskan para ulama.
Sebuah perjalanan yang mungkin melelahkan raga, namun menenangkan jiwa, sebuah safar yang membuat kita pulang dengan hati yang lebih lembut dan iman yang diperbarui.
(Penulis: Jhon Kenedy)
Tags
Opini
