Martapura, Habarkalimantantengah.com — Setiap awal bulan Rajab, Martapura tak lagi sekadar kota. Ia menjelma menjadi samudra manusia. Jalan-jalan sesak, rumah-rumah terbuka, dapur-dapur mengepul tanpa henti. Bukan karena pesta atau euforia seremonial kekuasaan, melainkan karena satu magnet spiritual yang terus hidup.
Dari berbagai penjuru Nusantara hingga mancanegara, jutaan jamaah datang dengan niat yang sama menyambung rindu kepada sang guru, menundukkan hati dalam doa, dan mengharap berkah, tanpa undangan resmi, tanpa tiket, tanpa panggung mewah, yang ada hanyalah ketulusan.
Momen 5 Rajab atau Haul Abah Guru Sekumpul bukan sekadar agenda keagamaan tahunan. Ia telah menjelma menjadi fenomena sosial dan spiritual yang langka. Di saat dunia semakin individualistis dan penuh sekat, justru di sini kebersamaan tumbuh tanpa pamrih, semua setara, semua saling melayani.
KH Muhammad Zaini Abdul Ghani atau Abah Guru Sekumpul memang telah wafat. Namun ajaran, akhlak, dan keteladanannya justru kian hidup. Dakwah beliau tidak lantang, tetapi menembus relung jiwa. Tidak menghakimi, tetapi merangkul. Tidak memaksa, tetapi menumbuhkan kesadaran. Barangkali itulah sebabnya, haul beliau tak pernah surut, justru terus membesar dari tahun ke tahun.
Yang paling mencengangkan, perhelatan raksasa ini berlangsung nyaris tanpa komando. Tidak ada mobilisasi formal, tak ada instruksi terpusat. Namun jutaan orang bergerak dengan kesadaran sendiri. Warga membuka pintu rumahnya bagi siapa saja. Dapur umum berdiri di setiap sudut. Relawan bekerja siang dan malam tanpa upah, tanpa pamrih.
Di sinilah ajaran Abah Guru Sekumpul menjelma nyata, yakni gotong royong, keikhlasan, dan cinta kepada sesama. Dalam lautan manusia yang padat, hampir tak terdengar keributan. Dalam antrean panjang, emosi seakan luluh. Yang terlihat justru saling mengalah, saling menolong, saling mendoakan.
Haul ini seperti tamparan halus bagi zaman yang kerap kehilangan arah. Ia mengingatkan bahwa agama bukan sekadar simbol dan seremoni, melainkan akhlak yang hidup. Bukan sekadar ritual, tetapi nilai yang membumi dalam tindakan sehari-hari.
Di tengah krisis keteladanan yang sering kita keluhkan, Abah Guru Sekumpul hadir sebagai bukti bahwa ketulusan jauh lebih kuat daripada kekuasaan, dan akhlak jauh lebih berpengaruh daripada retorika. Haul ini bukan hanya tentang mengenang sosok ulama besar, tetapi menjadi cermin jujur bagi umat, sejauh mana telah meneladani nilai-nilai beliau.
Pada akhirnya, makna haul bukan diukur dari seberapa banyak orang yang hadir, melainkan seberapa dalam ajaran itu tinggal di hati setelah pulang. Jika sepulang dari Sekumpul kita menjadi lebih sabar, lebih rendah hati, dan lebih peduli pada sesama, di situlah warisan Abah Guru Sekumpul benar-benar hidup.
Haul ini akan terus ada. Bukan semata karena tradisi, melainkan karena umat selalu merindukan teladan yang menyejukkan, teladan yang di zaman hari ini terasa kian langka.()
