89 Kali Digelar, Manyanggar Adat Desa Janggi Tetap Bertahan menjadi Penjaga Marwah Budaya Dayak

Buntok, Habarkalimantantengah.com - Ketika banyak tradisi perlahan memudar ditelan zaman, masyarakat Desa Janggi, Kecamatan Karau Kuala, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, justru terus merawat satu warisan yang tak lekang oleh waktu. Manyanggar Adat, ritual sakral yang telah diwariskan secara turun-temurun selama puluhan tahun, kembali digelar sebagai penanda bahwa akar budaya tetap menjadi napas kehidupan masyarakat Dayak.

Tahun ini, pelaksanaan Manyanggar Adat memasuki penyelenggaraan ke-89, bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke-52 Desa Janggi. Bagi masyarakat setempat, kedua momentum tersebut bukan sekadar perayaan, melainkan ungkapan syukur atas perjalanan desa sekaligus penghormatan terhadap nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur.

Di balik lantunan doa adat dan setiap prosesi yang dijalankan, tersimpan filosofi tentang hubungan harmonis antara manusia, alam, dan leluhur sebagaimana diyakini dalam tradisi masyarakat. Nilai-nilai itulah yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, sehingga Manyanggar tetap hidup hingga hari ini.

Camat Karau Kuala, Adriansyah, mengatakan ritual tersebut merupakan salah satu kekayaan budaya yang patut dijaga bersama karena mengandung nilai sejarah, spiritual, dan sosial yang kuat.

"Manyanggar Adat merupakan warisan budaya yang terus dilestarikan secara turun-temurun oleh masyarakat Desa Janggi. Ritual ini menjadi media komunikasi dengan ruh leluhur sebagai ungkapan rasa syukur, memohon perlindungan, membersihkan kampung dari pengaruh yang diyakini tidak baik, menyampaikan hajat, sekaligus dalam kepercayaan masyarakat digunakan sebagai media pengobatan penyakit nonmedis," ujarnya, Rabu (15/7/2026).

Menurut Adriansyah, keberlangsungan tradisi tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat Desa Janggi masih memegang teguh kearifan lokal sebagai bagian dari identitas yang harus dijaga di tengah perkembangan zaman.

Prosesi adat dipimpin oleh Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Desa Janggi sekaligus pemimpin ritual, Aspul Anwar, putra dari almarhum Moekri atau yang lebih dikenal sebagai Kakek Pak Tulur. Sosok almarhum dikenal luas sebagai tokoh adat Desa Janggi sekaligus pelaku sejarah dalam legenda Tumpuk Watu, yang hingga kini masih menjadi bagian dari khazanah budaya masyarakat setempat.

Lebih dari sekadar ritual adat, Manyanggar juga menjelma menjadi ruang perjumpaan sosial. Warga yang merantau kembali pulang, keluarga besar berkumpul, dan tali persaudaraan dipererat dalam suasana penuh kebersamaan. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa budaya tidak hanya hidup melalui simbol dan prosesi, tetapi juga melalui semangat gotong royong dan rasa memiliki terhadap kampung halaman.

Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua DAD Kecamatan Karau Kuala Zahrani, Damang Kepala Adat Kecamatan Karau Kuala Saprudin G, Bhabinkamtibmas Polsek Karau Kuala, Kepala Desa Janggi Fatli, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta sejumlah undangan lainnya.

Di tengah derasnya arus globalisasi, Manyanggar Adat Desa Janggi membuktikan bahwa tradisi bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah denyut kehidupan yang terus menghidupkan nilai-nilai kearifan lokal, memperkokoh persatuan masyarakat, sekaligus menjaga marwah budaya Dayak agar tetap berdiri tegak di bumi Kalimantan.(red/j)

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال