Di Balik Amanah Kades, Frans Dudy Tetap Rawat Tradisi Keluarga Mengurus Rotan

Buntok, Habarkalimantantengah.com - Menjadi kepala desa bukan berarti harus berjarak dari kehidupan sederhana yang tumbuh di tengah keluarga dan masyarakat. Bagi Kepala Desa Teluk Betung, Kecamatan Karau Kuala, Kabupaten Barito Selatan, Frans Dudy, mengabdi kepada warga dan membantu orangtua merupakan dua hal yang tetap dapat berjalan beriringan, selama dilakukan pada ruang dan waktu yang semestinya.

Di tengah kesibukannya mengemban amanah pemerintahan desa, Frans memanfaatkan waktu di luar jam kedinasan dan hari libur untuk membantu usaha orangtuanya sebagai pengepul rotan. Mulai dari membeli, membersihkan, hingga mengurus rotan sebelum dipasarkan, pekerjaan tersebut ia jalani sebagai bagian dari aktivitas keluarga yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Bagi Frans, mengurus rotan bukan pekerjaan baru. Aktivitas tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan keluarganya sejak lama. Karena itu, ketika tugas pemerintahan memberikan ruang di luar jam kerja, ia memilih tetap hadir membantu orangtua sekaligus mempertahankan tradisi ekonomi keluarga.

“Pekerjaan mengurus rotan ini sudah kami lakukan secara turun-temurun. Selama saya menjabat sebagai Kepala Desa Teluk Betung, pekerjaan ini tetap saya lakoni setelah selesai jam dinas atau pada hari libur,” ungkap Frans Dudy, Minggu (13/9/2026).

Ia menegaskan, pada hari kerja dirinya tetap memprioritaskan tugas sebagai kepala desa, termasuk menjalankan roda pemerintahan serta memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Sementara di luar waktu kedinasan, aktivitas mengurus rotan menjadi bagian dari kesehariannya bersama keluarga. Bagi Frans, keterlibatan tersebut sekaligus menjadi cara sederhana untuk membantu orangtua dan menjaga keberlanjutan usaha yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan keluarga.

Di sisi lain, komoditas rotan saat ini masih memberikan nilai ekonomi bagi pelakunya. Frans menyebutkan, harga rotan yang dibelinya berada pada kisaran Rp380 ribu hingga Rp400 ribu per 100 kilogram.

“Untuk harga saat ini cukup bagus, berkisar Rp380 ribu sampai Rp400 ribu per 100 kilogram,” ujarnya.

Kisah Frans memperlihatkan sisi lain kehidupan seorang kepala desa. Di balik tanggung jawab mengurus pemerintahan dan melayani masyarakat, ia tetap berpijak pada kehidupan keluarga serta tradisi yang telah membesarkannya.

Bagi dirinya, jabatan merupakan amanah yang harus dijalankan dengan tanggung jawab, sementara membantu orangtua dan menjaga usaha keluarga adalah bagian dari nilai kehidupan yang tetap ia pegang.(red/j)

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال